Cerita Para Relawan Membantu Korban Banjir Sintang Pengalaman Luar Biasa, Mengharukan, juga Menantang

Humas Polres Metro Bekasi - Banjir yang melanda Sintang dan  wilayah lain di Kalbar, belum lama ini, mengetuk hati banyak orang untuk membantu. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, masyarakat di perhuluan Kalbar dikepung banjir hingga berminggu-minggu. Ada yang mengungsi, banyak juga yang memilih menetap. Bertahan di lantai dua rumah mereka atau bahkan sekadar membuat panggung, agar bisa bertahan di rumahnya.


Kondisi ini yang dilihat Siti Nurlina Fidhiani, sukarelawan dari Rumah Zakat saat tiba di Sintang. “Pas tiba di sana, banjirnya tinggi, ada yang sampai ke genteng. Saya sampai tidak bisa berkata-kata, nangis saya lihat kondisi di sana,” katanya.


Menyadari masih dalam suasana pandemi, dia tetap berusaha menjaga protokol  kesehatan. Terutama mengenakan masker saat turun ke wilayah banjir. Ini bukan pengalaman baru baginya. Menjadi sukarelawan bisa menyalurkan keinginannya untuk berbagi kebahagiaan, membuat orang lain bahagia. 


“Saya jadi relawan lebih kurang 3 tahun. Menjadi relawan membuat saya selalu ingat untuk selalu bersyukur.


Awalnya, dia mengurusi truk kebaikan untuk dibawa ke Sintang. Dia memilih  ikut terjun langsung membantu masyarakat pada pengantaran truk kebaikan yang keempat. “Tiba di sana, saya memikirkan bagaimana masyarakat mengamankan barangnya, mengamankan keluarganya, gimana dalam kondisi itu mereka masih ada yang tetap bertahan?” ulasnya.


Saat mengantarkan bantuan, dia dan sukarelawan lainnya harus melewati medan yang tidak mudah. Ada lokasi yang bisa dilalui kendaraan, tapi ada juga yang harus jalan kaki, melewati perkebunan sawit.


Penyaluran bantuan dari terang hingga gelap. Di saat yang bersamaan, mereka harus menerjang banjir. Ada wilayah yang hanya sebetis tinggi airnya, tetapi ada juga yang sampai sepinggang. Baginya ini pengalaman luar biasa, mengharukan, juga menantang. Rasa kemanusiaan yang dimiliki sukarelawan ini menambah semangat untuk segera menyalurkan bantuan.


“Setelah penyaluran itu kan habis magrib, jadi untuk pulangnya kami ditunjukkan jalan oleh warga setempat. Ternyata jalannya juga sama yang kami tempuh ketika perginya. Lewat perkebunan sawit, hutan,” katanya.


Meski suka petualangan, dia tidak menyangka kali ini banyak pengalaman baru baginya. Naik dan lompat dari truk harus dilakukan. Padahal sebenarnya dia takut ketinggian. Rasa lelah terbayarkan, ketika berhasil mengantarkan bantuan. Seperti ketika bantuan perlengkapan bayi masih berusia sebulan. 


“Bahagia rasanya bisa menyalurkan bantuan. Mereka tentu dalam keadaan sulit karena banjir,” ungkapnya.


Banjir yang terjadi, kata dia, seolah mengubah kota menjadi lautan. Didapati dia bagaimana jalan raya dilalui longboat, sampan, dan sejumlah kendaraan air lainya. Akses jalan, menurut dia, terputus, sehingga menyulitkan aktivitas masyarakat.  


"Berada di tengah banjir, ini memberikan pengalaman berarti bagi saya,” pungkasnya.


Cerita serupa juga dialami Dody. Menjadi relawan terbilang baru bagi dia. Meski demikian, pria berusia 25 tahun itu begitu menikmatinya. Ia yang baru saja pulang dari Bekasi, langsung mendaftar tatkala ada tawaran menjadi relawan.


Tugas pertama dia sebagai relawan, terjun untuk membantu penanganan korban banjir di Kabupaten Sintang. 


"Baru satu minggu pulang dari Bekasi, begitu ada tawaran dari abang, saya pun mau. Tidak lama kemudian berangkat ke Sintang,” kata lulusan Pesantren Al Fath Jalen Bekasi Tambun, Bekasi ini.


Bagi Dody menjadi relawan tidak hanya sekadar bekerja. Ada misi yang diembannya, yakni membantu para korban. 


“Artinya bisa bersosialisasi dengan baik kepada masyarakat yang menjadi korban bencana alam. Melihat secara langsung kondisi mereka dan membantu mereka,” cerita Dody.


Menurutnya, menjadi relawan juga memiliki kesempatan untuk menambah jejaring. Dia bisa mengenal banyak orang dan bisa saling berbagi meski dalam kondisi mengalami bencana.


“Sukanya itu punya teman baru. Berkumpul bersama relawan lain dan masyarakat terdampak banjir. Saling berbagi, bercerita, dan membahagiakan sesama. Ada moment baik dalam kebersamaan,” ungkap Dody.


Ia menceritakan aktivitas sosial yang dilakukannya di Sintang. Seperti menyalurkan bantuan bahan pokok untuk korban banjir. Proses penyaluran itu, menurutnya, penuh tantangan. Sebab medan yang dituju mereka tidaklah mudah.


“Kami bersama relawan lainnya harus menggunakan perahu sekitar satu jam untuk mengantarkan bahan pokok ke lokasi pengungsian masyarakat,” terang relawan Dompet Ummat Kalbar ini.


Begitu juga yang diungkapkan Rino. Pria berusia 22 tahun ini juga baru menjadi relawan. Turun membantu masyarakat saat bencana di Sintang adalah aktivitas kerelawanan yang baru dilakukannya.


Menurut Rino, selama di Sintang, aktivitas yang dilakukan relawan tidak hanya menyalurkan bahan pokok untuk korban banjir. Paling utama itu melakukan koordinasi data korban dan lokasi terjadinya bencana. 


Ini dilakukan mereka bersama relawan lain, dinas terkait, tokoh masyarakat, hingga pemerintah setempat. Begitu mitigasi sudah dilakukan, mulai dengan pendistribusian bahan pokok. Proses pendistribusian juga tidak mudah, mengingat lokasi pengungsian warga juga berada di daerah-daerah yang terdampak banjir.


“Kami harus menggunakan perahu untuk sampai ke lokasi pengungsian masyarakat saat menyalurkan bahan pokok,” kata mahasiswa Pendidikan Sosiologi FKIP Untan Pontianak ini.


Ia melanjutkan aktivitas lain yang kemudian dilakukan seperti pengobatan gratis untuk masyarakat. Salah satunya anak-anak, karena banjir menimbulkan penyakit gatal-gatal. Aktivitas lainnya memberikan memberikan trauma healing bersama anak-anak. 


Mulai dari bermain game bersama, mendongeng, dan kegiatan lainnya yang sifatnya edukatif dan menghibur anak-anak.


Pria asal Sambas ini tergabung dalam Relawan Dompet Ummat Kalimantan Barat. Sekitar seminggu dia berada di Sintang membantu masyarakat saat dilanda banjir.


“Selama ini saya hanya melihat di video saja soal relawan. Sekarang saya terjun langsung dan itu pengalaman yang luar biasa,” cerita Rino.


Menurutnya banyak hal yang bisa dipetik saat menjadi relawan. Seperti bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dia bisia melihat langsung kondisi masyarakat, serta mengetahui kebutuhan utama saat mereka mengalami bencana.


“Dukanya pada proses pendistribusian logistik, terutama ke daerah-daerah yang sulit terjangkau. Termasuk kesulitan mencari transportasi untuk ke lokasi tujuan,” terang Rino.


Ada juga Andrian Fajar Maulana. Pria berusia 24 tahun menjadi relawan saat terjadi bencana banjir di Sintang. “Saya di Sintang sekitar satu bulan 27 hari,” kata Fajar.


Menjadi relawan bukan hal yang baru bagi Fajar. Aktivitas kemanusiaan ini sudah dilakukannya sejak kelas dua SMA. Meski demikian ia baru mulai aktif menjadi relawan setelah tamat sekolah. Aktivitas itu dilakukan di awal-awal menginjak bangku perkuliahan. Bagi Fajar, menjadi relawan itu mempermudah tugas kemanusiaan.


Fajar pernah mengikuti berbagai pelatihan kerelawanan. Seperti pelatihan kebencanaan. Ia pun tergabung dalam berbagai komunitas relawan. Seperti tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak.


Ia juga tergabung dalam Tenaga Sukarela PMI Kota Pontianak. Bahkan tergabung juga di Indonesia Escorting Ambulance Pontianak-Kubu Raya. Sebuah komunitas relawan yang mengawal ambulans yang melintas di Pontianak.


“Tapi awalnya saya bergabung di BPBD. Kemudian TSR PMI dan setelah itu bergabung di IEA. Saya juga menjadi relawan pemulasaran jenazah di Dinkes Kota Pontianak dan membantu tim Rumah Zakat juga. Ketika di Sintang, saya membawa unsur relawan gabungan,” jelas Fajar.


Fajar mengatakan banyak tugas yang mesti diselesaikan ketika berada di Sintang. Seperti melakukan asesmen pada daerah-daerah yang terdampak banjir. Kemudian membantu evakuasi masyarakat dari tempat terdampak banjir ke kawasan yang lebih tinggi.


Proses evakuasi itu dikatakan Fajar tidak hanya untuk manusia. Para relawan juga mengevakuasi ternak-ternak dan hewan peliharaan masyarakat. 


"Sukanya seperti itu. Ada kebersamaan yang dibangun. Termasuk menjalin komunikasi terhadap instansi terkait hingga masyarakat,” kata dia.


Bagi Fajar, menjadi relawan itu sifatnya universal. Membantu tanpa sekat. Membangun toleransi karena semangat perjuangannya adalah kemanusiaan. 


“Tujuan utamanya membantu sesama,” imbuh Fajar.


Sumber artikel: pontianakpost.co.id